Senin, 30 Maret 2015

KOMUNIKASI BISNIS

Bisnis dan Pengertian Bisnis

Bisnis merupakan kata dengan banyak arti dan penggunaan. Dalam arti sempit bisnis berarti dalam keadaan sibuk. Namun, pengertian bisnis ini mengandung banyak konotasi sejak kata bisnis digunakan dalam segala aktivitas ekonomi orang yang sibuk. 

Pengertian bisnis berdasarkan ilmu ekonomi adalah suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya, untuk mendapatkan laba. 

Pengertian Bisnis menurut Haney adalah dapat didefinisikan sebagai aktivitas manusia yang dihubungkan dengan produksi ataupun memperoleh kekayaan melalui pembelian dan penjualan barang. 
Pengertian Bisnis lebih lanjut dibatasi oleh Peterson dan Plowman yang menjelaskan bahwa bisnis merupakan serangkaian kegiatan yang berhubungan dengan penjualan ataupun pembelian barang dan jasa yang secara konsisten berulang. Menurutnya, penjualan jasa ataupun barang yang hanya terjadi satu kali saja bukan merupakan pengertian dari bisnis.

Kata bisnis diambil dari kata bahasa Inggris yaitu busy yang dapat diartikan sebagai sibuk. Kata busy sendiri pada bahasa inggris lama yaitu bisignis yang berarti keadaan dimana seseorang sedang sibuk "state of being busy". Konsep bisnis tersebut tidak membatasi pendapat yang ada bahwa konsep bisnis berlaku untuk individu, komunitas ataupun masyarakat.

Ada beberapa karakteristik dari bisnis yaitu:
1. Sebuah institusi atau lembaga ataupun organisasi ekonomi dan sosial "An economic and social institution"
2. Berurusan dengan barang-barang dan jasa untuk memenuhi keinginan manusia "Dealings in goods and services to satisfy human wants"
3. Untuk mencari profit/keuntungan
4. Menciptakan utiliti
5. Menetapkan harga
6. Dalam skala reguler dan dasar yang berlanjut
7. Selalu ada kemungkinan untuk loss atau merugi
8. Harus dapat tumbuh dan berkembang untuk dapat survive.

Pengertian Komunikasi

Komunikasi berakar kata Latin, ”comunicare”, artinya "to make common" – membuat kesamaan pengertian, kesamaan persepsi. Akar kata Latin lainnya “communis” atau “communicatus” atau “common” dalam bahasa Inggris yang berarti “sama”, kesamaan makna (commonness). Ada juga akar kata Latin ”communico” yang artinya membagi. Maksudnya membagi gagasan, ide, atau pikiran.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995) mengartikan komunikasi sebagai ”pengiriman dan pemerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami”.

The Oxford English Dictionary mengartikan komunikasi sebagai “The imparting, conveying, or exchange of ideas, knowledge, information, etc. “ (Pemberian, penyampaian, atau pertukaran ide, pengetahuan, informasi, dsb.)

Pengertian Komunikasi Menurut Para Ahli

Para ahli komunikasi berbed-beda redaksional dalam mendefinisikan komunikasi, seperti “pengalihan informasi untuk memperoleh tanggapan” (JL. Aranguren), “koordinasi makna antara seseorang dengan khalayak” (Melvin L DeFleur), dan “saling berbagi informasi, gagasan, atau sikap” (Wilbur Schramm).

Pengertian komunikasi paling populer datang dari Harold Lasswell, yakni “Who says what in which channel to whom and with what effects”, siapa mengatakan apa melalui saluran mana kepada siapa dan dengan pengaruh apa.
Definisi Lasswell dianggap paling lengkap karena sekaligus menggambarkan proses dan elemen komunikasi, yakni komunikator (who), pesan (what), media atau sarana (channel), komunikan (whom), dan pengaruh atau akibat (effect).

KOMUNIKASI BISNIS

Pengertian komunikasi bisnis menurut Purwanto : Komunikasi bisnis adalah komunikasi yang digunakan dalam dunia bisnis yang mencakup berbagai macam bentuk komunikasi baik komunikasi verbal maupun nonverbal untuk mencapai tujuan tertentu. (Purwanto, 2006:4)

Pada dasarnya, ada dua bentuk dasar komunikasi yang lazim digunakan dalam dunia bisnis, yaitu komunikasi verbal dan nonverbal. Masing-masing dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut. (Purwanto, 2006:5-8)

Komunikasi Verbal. Komunikasi verbal merupakan salah satu bentuk komunikasi yang lazim digunakan dalam dunia bisnis untuk menyampaikan pesan-pesan bisnis kepada pihak lain baik secara tertulis (written) maupun lisan (oral). Bentuk komunikasi verbal ini memiliki struktur yang teratur dan terorganisasi dengan baik, sehingga tujuan penyampaian pesan-pesan bisnis dapat tercapai dengan baik. contoh: Membuat dan mengirim surat pengantar barang ke suatu perusahaan, Membuat dan mengirim surat pengumuman ke media massa.

Komunikasi Nonverbal. Bentuk komunikasi yang paling mendasar dalam komunikasi bisnis adalah komunikasi nonverbal. Menurut teori antropologi, sebelum manusia menggunakan kata-kata, mereka telah menggunakan gerakan-gerakan tubuh, bahasa tubuh (body language) sebagai alat untuk berkomunikasi dengan orang lain. contoh: Mengerutkan dahi untuk menunjukkan sedang berpikir keras.


PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia)



Didirikan pada tahun 1995, PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) merupakan bagian dari Prudential plc, sebuah grup perusahaan jasa keuangan terkemuka di Inggris. Sebagai bagian dari Grup yang berpengalaman lebih dari 165 tahun di industri asuransi jiwa, Prudential Indonesia memiliki komitmen untuk mengembangkan bisnisnya di Indonesia.

Sejak meluncurkan produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (unit link) pertamanya di tahun 1999, Prudential Indonesia merupakan pemimpin pasar untuk produk tersebut di Indonesia. Di samping itu, Prudential Indonesia juga menyediakan berbagai produk yang dirancang untuk memenuhi dan melengkapi setiap kebutuhan para nasabahnya di Indonesia.

Sampai 30 Juni 2014, Prudential Indonesia memiliki kantor pusat di Jakarta dan kantor pemasaran di Medan, Surabaya, Bandung, Denpasar, Batam dan Semarang. Prudential Indonesia melayani lebih dari 2,3 juta nasabah melalui lebih dari 200.000 tenaga pemasar di 371 Kantor Pemasaran Mandiri (KPM) di seluruh nusantara (termasuk di Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, Yogyakarta, Batam, dan Bali).

Tag Line Prudential

Selain terkenal dengan asuransinya, Prudential juga terkenal dengan tag line-nya yang selalu ada di setiap jenis iklan yang dibuat. Bunyi tag line tersebut adalah "Always Listening Always Understanding". Kalimat tag line ini memang terdengar sederhana tetapi jika diamati memiliki makna yang cukup dalam yang, menurut saya, mampu menarik perhatian khalaayak umum.
Menurut saya, prudential menggunakan tag line ini karena mereka tahu bahwa untuk menjadi pendengar yang baik itu sulit yang pastinya untuk memahami kebutuhan seseorang juga akan lebih sult. Dengan tag line seperti diatas, Prudential seperti ingin mengatakan bahwa mereka siap untuk mendengar semua keluhan, keinginan dan keperluan klien dan mampu untuk mengerti dan memahami kebutuhan klien mereka. 


Referensi:

http://www.apapengertianahli.com/2014/09/pengertian-bisnis-menurut-para-ahli.html#_
http://edukasi.kompasiana.com/2014/04/22/pengertian-teori-komunikasi-dan-macam-macamnya-650105.html
http://www.anneahira.com/komunikasi-bisnis-adalah.htm
http://pendidikanekonomia.blogspot.com/2013/10/komunikasi-bisnis.html
http://www.anneahira.com/asuransi-prudential.htm
http://www.prudential.co.id/corp/prudential_in_id/header/aboutus/index.html

Rabu, 21 Januari 2015

ERAWAN WATERFALL



Founded in 1975 as Thailands 12th National Park, it is covering an area of km². Located on West Thailand in the Tenasserim Hills of Kanchanaburi Province, it is one of the most famous national parks in Thailand.

The major attraction of the park is Erawan Falls with emerald green ponds.

Erawan Waterfall, named after the three-headed white elephant of Hindu mythology.  The top layer of the falls is said to resemble the elephant's head.

The first layer is not all that much to look at, but just a stream with a few picnic tables, which was called Ly Kung Lung (spelled Hlai Keun Lung).  The beauty really begins at the 2nd waterfall where there’s a huge pool of water to go swimming in and enjoy the refreshing falls.  Go even further and things keep getting better and better and quieter  



The 3rd level of Erawan Waterfall also provides a great opportunity for a dip,  which was called Pha Num tok (or Pha Nom Tok) and 220m from the visitor center. 


The trail is easily marked and although it becomes progressively less maintained and more rocky.
Further up the hike, the fourth Erawan Waterfall was more of a water slide. It also had a larger drop further downstream, but it was hard to see.  A person can scoot himself on the rounded rock of the waterslide before finally letting gravity take over. This falls was called Oke Nank Phee Seah.


Hiking along the trail at Erawan Waterfall, you’ll come across some interesting things in the trees, such as a number of shrines and trees wrapped in colorful cloth for the spirits, and this little head of a teddy bear that sits quietly on top of a big rock.



The 5th waterfall (called Bua Mai Long) of Erawan Waterfall is a beautifully shaded area with many little miniature falls and a gorgeous environment. Though it can get crowded, if you are able to visit before the buses of tourists arrive, you’ll be able to enjoy its pure natural beauty.


Ultimately, this fairly immersive part of the hike terminated at the sixth waterfall, which was a wide multilayers cascade with some lower layers. This waterfall was called Dong Prouck Sa.


The seventh level or layer is said to be the best level, the aqua turquoise water backed by white rocks and a gentle waterfall made for perfect scenery.  The water is very cool and refreshing!
But if you relax without moving in the water for too long, the fish will begin to attack your feet, nibbling on your toes and heels and eating your dead skin. 



Around 80% of Erawan is forest, and many of the park's various trees can be seen along three nature trails, which range from 1km to 2km. Bird-watchers try to spy hornbills, woodpeckers and parakeets from the camping areas and observation trails. Tigers, elephants, cobras and gibbons also call the park home.

Park bungalows sleep between two and 50 people. the price varies from 800B to 4000B. If you bring your own tent, there is a 30B service fee.

Buses from Kanchanaburi stop by the entrance of the Erawan waterfall (50B, 1½ hours, every 90 minutes from 8am to 5.20pm). The last bus back to Kanchanaburi is at 4pm. The entrance fee is 200 baht for foreigners and costs additional 20 baht for a motorbike. The park is easily accessible by public busses from Kanchanaburi, see our get there section for more info. Within the park, there are bicycles for rent for 20B per day.

Bare in mind that food is strictly forbidden beyond the 2nd tier. Visitors must pay a 20B fee per bottle of any drinks which can be refunded when the bottles are returned.


sources: 
  • https://www.thainationalparks.com/erawan-national-park
  • http://en.wikipedia.org/wiki/Erawan_National_Park
  • http://www.world-of-waterfalls.com/asia-erawan-waterfall.html
  • http://www.lonelyplanet.com/thailand/kanchanaburi-province/erawan-national-park
  • http://www.kanchanaburi-info.com/en/srisawat.html
  • https://www.google.com/search?q=erawan+waterfall&espv=2&biw=1024&bih=470&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ei=fljAVIyIFsK58gW_4YLoBw&ved=0CAYQ_AUoAQ


Senin, 05 Januari 2015

Sejarah Jurnalistik di Dunia dan Indonesia

SEJARAH JURNALISTIK DI DUNIA

Awal  mulanya muncul jurnalistik dapat diketahui dari berbagai literatur tentang sejarah jurnalistik senantiasa merujuk pada “Acta Diurna” pada zaman Romawi Kuno masa pemerintahan kaisar Julius Caesar (100-44 SM).

“Acta Diurna”, yakni papan pengumuman (sejenis majalah dinding atau papan informasi sekarang), diyakini sebagai produk jurnalistik pertama; pers, media massa, atau surat kabar harian pertama di dunia. Julius Caesar pun disebut sebagai “Bapak Pers Dunia”.

Sebenarnya, Caesar hanya meneruskan dan mengembangkan tradisi yang muncul pada permulaan berdirinya kerajaan Romawi. Saat itu, atas peritah Raja Imam Agung, segala kejadian penting dicatat pada “Annals”, yakni papan tulis yang digantungkan di serambi rumah. Catatan pada papan tulis itu merupakan pemberitahuan bagi setiap orang yang lewat dan memerlukannya.

Saat berkuasa, Julius Caesar memerintahkan agar hasil sidang dan kegiatan para anggota senat setiap hari diumumkan pada “Acta Diurna”. Demikian pula berita tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, serta apa yang perlu disampaikan dan diketahui rakyatnya. Papan pengumuman itu ditempelkan atau dipasang di pusat kota yang disebut “Forum Romanum” (Stadion Romawi) untuk diketahui oleh umum.

Berita di “Acta Diurna” kemudian disebarluaskan. Saat itulah muncul para “Diurnarii”, yakni orang-orang yang bekerja membuat catatan-catatan tentang hasil rapat senat dari papan “Acta Diurna” itu setiap hari, untuk para tuan tanah dan para hartawan.

Dari kata “Acta Diurna” inilah secara harfiah kata jurnalistik berasal yakni kata “Diurnal” dalam Bahasa Latin berarti “harian” atau “setiap hari.” Diadopsi ke dalam bahasa Prancis menjadi “Du Jour” dan bahasa Inggris “Journal” yang berarti “hari”, “catatan harian”, atau “laporan”. Dari kata “Diurnarii” muncul kata “Diurnalis” dan “Journalist” (wartawan).

Acta Diurna

Dalam sejarah Islam, seperti dikutip Kustadi Suhandang (2004), cikal bakal jurnalistik yang pertama kali di dunia adalah pada zaman Nabi Nuh. Saat banjir besar melanda kaumnya, Nabi Nuh berada di dalam kapal beserta sanak keluarga, para pengikut yang saleh, dan segala macam hewan.

Untuk mengetahui apakah air bah sudah surut, Nabi Nuh mengutus seekor burung dara ke luar kapal untuk memantau keadaan air dan kemungkinan adanya makanan. Sang burung dara hanya melihat daun dan ranting pohon zaitun yang tampak muncul ke permukaan air. Ranting itu pun dipatuk dan dibawanya pulang ke kapal. Nabi Nuh pun berkesimpulan air bah sudah mulai surut. Kabar itu pun disampaikan kepada seluruh penumpang kapal.

Atas dasar fakta tersebut, Nabi Nuh dianggap sebagai pencari berita dan penyiar kabar (wartawan) pertama kali di dunia. Kapal Nabi Nuh pun disebut sebagai kantor berita pertama di dunia.

Kegiatan penyebaran informasi melalui tulis-menulis makin meluas pada masa peradaban Mesir, ketika masyarakatnya menemukan tehnik pembuatan kertas dari serat tumbuhan yang bernama “Phapyrus”.
 Kertas Phapyrus

Pada abad 8 M., tepatnya tahun 911 M, di Cina muncul surat kabar cetak pertama dengan nama “King Pau” atau Tching-pao, artinya “Kabar dari Istana”. Tahun 1351 M, Kaisar Quang Soo mengedarkan surat kabar itu secara teratur seminggu sekali.

Penyebaran informasi tertulis maju sangat pesat sejak mesin cetak ditemukan oleh Johan Guttenberg pada 1450. Koran cetakan yang berbentuk seperti sekarang ini muncul pertama kalinya pada 1457 di Nurenberg, Jerman. Salah satu peristiwa besar yang pertama kali diberitakan secara luas di suratkabar adalah pengumuman hasil ekspedisi Christoper Columbus ke Benua Amerika pada 1493.
Mesin Cetak Pertama di Dunia

Surat kabar cetak yang pertama kali terbit teratur setiap hari adalah Oxford Gazzete di Inggris tahun 1665 M. Surat kabar ini kemudian berganti nama menjadi London Gazzette dan ketika Henry Muddiman menjadi editornya untuk pertama sekali dia telah menggunakan istilah “Newspaper”.

SEPUTAR PULITZER

Di Universitas Bazel, Swiss jurnalistik untuk pertama kali dikaji secara akademis oleh Karl Bucher (1847 – 1930) dan Max Weber (1864 – 1920) dengan nama Zeitungskunde tahun 1884 M. Sedangkan di Amerika mulai dibuka School of Journalism di Columbia University pada tahun 1912 M/1913 M dengan penggagasnya bernama Joseph Pulitzer (1847 – 1911).

Pada Abad ke-18, jurnalisme lebih merupakan bisnis dan alat politik ketimbang sebuah profesi. Komentar-komentar tentang politik, misalnya, sudah bermunculan pada masa ini. Demikian pula ketrampilan desain/perwajahan mulai berkembang dengan kian majunya teknik percetakan.

Pada abad ini juga perkembangan jurnalisme mulai diwarnai perjuangan panjang kebebasan pers antara wartawan dan penguasa. Pers Amerika dan Eropa berhasil menyingkirkan batu-batu sandungan sensorsip pada akhir Abad ke-18 dan memasuki era jurnalisme modern seperti yang kita kenal sekarang.

Perceraian antara jurnalisme dan politik terjadi pada sekitar 1825-an, sehingga wajah jurnalisme sendiri menjadi lebih jelas: independen dan berwibawa. Sejumlah jurnalis yang muncul pada abad itu bahkan lebih berpengaruh ketimbang tokoh-tokoh politik atau pemerintahan. Jadilah jurnalisme sebagai bentuk profesi yang mandiri dan cabang bisnis baru.

Pada 1872, Pulitzer membeli surat kabar Post seharga USD 3.000 dan setahun kemudian ia menjual surat kabar itu dengan harga berlipat. Pada 1879, ia membeli surat kabar St. Louis Dispatch dan St. Louis Post yang kemudian digabungkannya menjadi satu dengan nama St. Louis Post-Dispatch yang kemudian dirubah namanya lagi menjadi koran St. Louis saja. Di masa inilah, Pulitzer meraih kesuksesan besar dan berhasil mengumpulkan harta kekayaannya. 

Tahun 1882, Pulitzer mengakuisisi surat kabar New York World. Setelah dikelolanya, surat kabar yang semula telah mengalami defisit USD 40.000 berubah total dengan meraup untung sejumlah USD 346.000 dalam setahun. Hal ini bisa terjadi karena Pulitzer merombak habis-habisan arah pemberitaan surat kabar tersebut. Pulitzer mengisi New York World dengan sajian-sajian berita human-interest, skandal, gosip dan berita-berita sensasional lainnya di mana pada masa itu gebrakan ini belum dilakukan oleh media-media lain. Pada 1885, Pulitzer terpilih sebagai anggota DPR AS (House of Representatives). Namun sayangnya beberapa bulan kemudian ia mengundurkan diri. 

Tahun 1800-an juga ditandai dengan munculnya istilah Yellow Journalism (jurnalisme kuning), sebuah istilah untuk “pertempuran headline” antara dua koran besar di Kota New York. Satu dimiliki oleh Joseph Pulitzer dan satu lagi dimiliki oleh William Randolph Hearst.

Penghargaan/Hadiah Pulitzer 

Acara penganugerahan Pulitzer pertama kali digelar setahun setelah Joseph Pulitzer meninggal yaitu pada tanggal 4 Juni 1917. Ini merupakan warisan terpenting Pulitzer dalam dunia pers. Setiap tahun ada duapuluh satu jenis kategori penghargaan yang diberikan. Di mana duapuluh orang/pihak pemenang berhak atas uang sejumlah USD 10.000 dan sertifikat. Sedangkan pemenang utama mendapat medali emas. Pemenang utama biasanya bukanlah individu melainkan sebuah institusi pers (surat kabar). 


SEJARAH JURNALISTIK DI INDONESIA

Zaman Penjajahan Belanda

Di Indonesia pers mulai dikenal pada abad 18, tepatnya pada tahun 1744, ketika sebuah surat kabar bernama “Bataviasche Nouvelles” diterbitkan dengan perusahaan orang-orang Belanda. Surat kabar yang pertama sebagai bacaan untuk kaum pribumi dimulai tahun 1854 ketika majalah “Bianglala” diterbitkan, disusul oleh “Bromartani” pada tahun 1885, kedua-duanya di Weltevreden, pada tahun 1856 “Soerat Kabar Bahasa Melajoe” di Surabaya. Sejak itu bermunculanlah berbagai surat kabar dengan pemberitaan bersifat informatif, sesuai dengan situasi dan kondisi pada zaman penjajahan itu.

Zaman Penjajahan Jepang 

Beralih ke masa penjajahan Jepang. Pers Indonesia mengalami kemajuan dalam hal teknis namun pada masa ini, surat izin penerbitan mulai diberlakukan. Surat-surat kabar yang diterbitkan dalam bahasa  Belanda banyak yang dimusnahkan. Penerbitan surat-surat kabar pun mulai ketat dibawa pengawasan Jepang. Surat-surat kabar yang terbit pada masa ini antara lain  Asia raya(Jakarta), Sinar Baru(Semarang), Suara Asia(Surabaya), Tjahaya(Bandung).

Walaupun pengawasan jepang yang begitu ketat dan mengekang namun ada pelajaran-pelajaran berharga untuk dunia jurnalistik Indonesia. Pengalaman karyawan-karyawan pers di Indonesia bertambah. Rakyat semakin  kritis dalam menanggapi informasi-informasi yang beredar dan meluasnya penggunaan bahasa Indonesia.

Ada pula UU no. 16 yang menunjukkan berlakunya sistem izin terbit dan sensor preventif yang meliputi semua penerbitan. Selain itu masih ada tindakan lain, yakni menempatkan shidooin (penasihat) dalam redaksi yang sebenarnya bertugas melakukan kontrol langsung. Bahkan tidak jarang, mereka juga menulis pada media tersebut.

Zaman Kemerdekaan

Namun di era Revolusi(1945-1949) situasipun berubah. Perang perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia dilakukan untuk menentang Belanda masuk lagi ke Indonesia.hal ini berpengaruh pada perkembangan  Jurnalistik Indonesia. Pers terbagi kedalam 2 kelompok yakni pers Nica(Belanda) dan pers Republik (Indonesia). Pada masa ini, pers sering disebut sebagai pers perjuangan. Pers Indonesia menjadi salah satu alat perjuangan untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. Beberapa hari setelah teks proklamasi dibacakan Bung Karno, terjadi perebutan kekuasaan dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat, termasuk pers.

Organisasi wartawan pertama yakni Persatuan Wartawan Indonesia lahir 9 Februari 1946.

Orde Lama

Pembredelan pers banyak terjadi setelah berlakunya SOB (Staat van Oorlog en Beleg/ undang-undang negara dalam keadaan bahaya, 14 Maret 1957).

Beberapa media yang dibreidel pada masa itu adalah: Suara Maluku di Ambon (15 Januari 1958); Suara Andalas di Medan (30 Januari 1958); Keng Po di Jakarta (21 Februari 1958); Tegas di Kutaraja (25 Februari 1958); Bara di Makassar (13 Maret 1958); Pedoman di Jakarta (22 Maret 1958); Kantor berita PIA, Indonesia Raya dan Bintang Minggoe di Jakarta (29 Mei 1958).

Penahanan terhadap wartawan pun banyak terjadi pada masa ini.

Kematian pers Indonesia ditandai dengan pemberlakuan Surat Izin Terbit (SIT) tanggal 1 Oktober 1957 oleh KODAM V Jakarta Raya.

Orde Baru

Orde Baru berlangsung dari tahun 1968 hingga 1998. Meski pada awal Orde Baru, pers sempat menikmati kebebasanya, namun pada era ini, kebebasan pers sangat terbatas, dan banyak terjadinya pembredelan media massa.

Pada era ini muncul idiom Pers Pancasila yang dirumuskan dengan menggunakan idiom pers yang bebas dan bertanggung jawab.

Peristiwa yang paling fenomenal pada saat itu  adalah peristiwa Malari yang melibatkan pembredelan 12 media cetak. Kasus Malari yang terjadi pada 15 Januari 1974 itu mencatat begitu banyak korban jiwa dan kerusakan terjadi dimana-mana. Namun yang paling fenomenal sepanjang pembedelan media massa adalah pembredelan atau pencabutan SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers) sejumlah media massa, antara lain Majalah Tempo, deTIK, dan Editor. Ketiganya ditutup penerbitannya karena pemberitaan yang tergolong kritis terhadap pemerintah.

Orde Reformasi

Kelahiran orde reformasi sejak pukul 12.00 siang kamis 21 mei 1998 setelah soeharto menyerahkan jabatan presiden kepada wakilnya BJ.Habibie, disambut dengan penuh suka cita oleh seluruh rakyat indonesia. Terjadilah euforia dimana-mana. Kebebasan jurnalistik berubah secara drastis menjadi kemerdekaan jurnalistik. Departemen penarangan sebagai malaikat pencabut nyawa pers, dengan sertah mertah di bubarkan.

Secara yuridis UUD pokok pers NO.21/1982 pun diganti dengan UU pokok pers NO.40/1999. Dengan undang-undang dan pemerintahan baru, siapapun bisa menerbitkan dan mengelola pers. Tak ada lagi kewajiban hanya menginduk kepada satu organisasi pers. Seperti di tegaskan pasal 9 ayat (1) undang-undang pokok pers NO.40/1999; setiap warga negara indonesia dan negara berhak mendirikan perusahaan pers. Pada pasal yang sama ayat berikutnya (2) ditegaskan lagi, setiap perusahaan pers harus berbentuk badan hukum indonesia.

Kewewenangan yang dimiliki pers nasional itu sendiri sangat besar. Menurut pasal 6 UU pokok pers NO.40/1999, pers nasional melaksanakan peranan : (a) memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui, (b) menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia sertah menghormati kebhinekaan, (c) mengembangkan pendapat umum berdasrkan informasi yang tepat, akurat, dan benar, (d) melakkukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum, dan (e) memperjuangkan keadilan dan kebenaran.


Sources:
http://jurnalistikmadingsma.blogspot.com/2012/10/sejarah-jurnalisme-di-indonesia.html
http://www.asal-usul.com/2009/04/joseph-pulitzer-penghargaan-pulitzer.html
http://wantysastro.wordpress.com/2012/10/05/sejarah-jurnalistik-di-dunia-dan-di-indonesia/
http://homework-uin.blogspot.com/2009/12/sejarah-jurnalistik.html
http://anggelinasinta.blogspot.com/2012/11/sejarah-dan-perkembangan-jurnalistik-di.html
https://fannylesmana4communication.wordpress.com/2011/07/20/perkembangan-pers-di-indonesia/
http://putrajaya431.blogspot.com/
http://jurnalistikmadingsma.blogspot.com/2012/10/sejarah-jurnalisme-di-indonesia.html

Senin, 29 Desember 2014

5 Tahun Kedepan

Jika saya harus meneropong diri saya sendiri 5 tahun dari sekarang, saya melihat diri saya sebagai wanita yang mandiri. Saya akan bekerja di salah satu perusahaan pertelevisian atau majalah. Saya selalu memimpikan diri saya sebagai orang yang bekerja di belakang layar, dengan kata lain tim kreatif. Saya tidak terlalu menyukai perkerjaan di belakang meja, tetapi itu bukan berarti saya anti dengan pekerjaan seperti itu. Saya melihat diri saya bertukar ide dengan partner lainnya untuk mencari hal menarik berikutnya. Ya, seperti itulah saya melihat karir saya. 

Untuk masalah yang lain, 5 tahun kedepan saya memiliki impian untuk memiliki uang yang cukup untuk membeli mobil sendiri untuk saya dan ibu saya. Saya juga memiliki goal dalam hidup saya, yaitu untuk menerbangkan ibu saya ke tanah suci untuk menunaikan ibadah umrah atau kalau bisa malah Haji. Tujuan hidup utama saya untuk sekarang ini adalah membahagiakan ibu saya jadi saya belum punya rencana apa-apa untuk saya sendiri. Ya, mungkin ada satu yaitu pergi ke Amerika atau Jepang, tapi itu bukan utama jadi bisa ditunda.

Saya melihat diri saya pensiun mungkin pada umur 50 tahun. Karena pada waktu sekianlah saya meresa cukup dengan semua pekerjaan kantoran saya. Tetapi itu bukan akhir dari masa mencari uang saya, saya berencana dengan uang yang saya kumpulkan atau mungkin sisa tabungan saya untuk membuka warung sembako agar uang saya bisa berputar. 

Itulah gambaran kasar hidup saya kedepannya. 




Kamis, 13 November 2014

OPINI

Peran Media Informasi & Teknologi dalam Membangun Kepribadian Anak

Seperti yang kita ketahui, teknologi memang selalu menjadi pedang bermata dua di dalam kehidupan kita dalam bermasyarakat. Kamujuan teknologi memang sudah dirasakan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat, baik segi positifnya maupun segi negatifnya. Kemudahan dalam mengakses informasi dan teknologi inilah yang menjadi penyebab utama. Kalangan yang paling banyak mengunakan media informasi dan teknologi sekarang ini adalah para kuala muda, bahkan pada usia 5 sampai 12 tahun, mereka dengan mahirnya menjalankan teknologi tersebut. 

Kemampuan seorang anak dalam menjalankan teknologi memang baik, apalagi di era globalisasi yang menuntut maysarakat untuk bergerak agar tidak tertinggal. Namun, hal ini juga menjadikan seorang anak kecanduan pada teknologi tersebut sehingga mereka tidak bisa meninggalkannya walau hanya sebentar. Hal yang juga menjadi kekhawatiran juga adalah kurangnya interaksi anak-anak satu dengan yang lainnya. Sekarang ini, anak-anak terlihat lebih memilih game-game yang tersedia melalui teknologi ketimbang melakukan aktivitas diluar rumah. Sebenarnya beberapa dari orangtua banyak yang beranggapan bahwa perilaku seperti ini cukup bagus dikarenakan mereka tidak perlu lagi khawatir akan keselamatan anak-anak mereka karena mereka akan lebih mudah memantau anak-anak mereka yang berada di rumah. Pandangan seperti ini salah dan seharusnya tidak usah diteruskan, karena dapat membuat anak-anak mereka menjadi pribadi yang individualis dan susah untuk berinteraksi dengan dunia luar. Dalam pengoptimalan potensi sorang anak, sangat diperlukan adanya peran serta orangtua yang menjadi elemen terpenting karena perilaku dan perkembangan seorang anak bergantung pada sikap orangtua dalam mengawasi dan membimbing anak-anak mereka menerima segala sesuatu yang nantinya akan menjadi sesuatu yang signifikan untuk mereka kedepannya. 

Media informasi dan teknologi memang menjadi kepentingan utama bagi manusia modern, tetapi sebagai manusia modern jugalah kita harus bisa memfilter elemen-eleman yang dapat mempengaruhi kita.



Kamis, 30 Oktober 2014

Berita Investigatif

 Berhati-hati Dalam Memilih Softlens

        Softlens atau yang biasa disebut kontak lensa adalah sepasang benda yang digunakan pada mata yang berfungsi sebagai pengganti kacamata. Softlens ini dikhususkan bagi pendeita mata minus atau plus.Softlens adalah benda yang terbuat dari plastik yang sangat tipis yang mampu menyimpan air dan oksigen. Pada awalnya softlens hanya terbuat dari satu warna saja, yaitu bening. Tetapi seiring denganperkembangan zaman dan gaya hidup, sekarang sudah banyan dijumpai softlens dengan warna yang mencolok. Akhir-akhir ini, softlens bukan hanya digunakan untuk suatu kebutuhan atau sebagai pengganti kacamata saja, melainkan sebagai aksesoris untuk kecantikan. Banyak anak muda yang kurang pengetahuannya tentang bahaya softlens ini sendiri. 
       
       Sekarang ini bukan hanya optik yang menjual softlens tapi di salon-salon maupun toko kecantikan juga sudah banyak beredar berbagai macam merk softlens, bahkan online shop juga banyak yang menawarkan softlens dari harga yang mahal hingga yang paling murah. Namun, ada beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab mengakali trend ini. Oknum tersebut menjual softlens yang sudah kadaluarsa kepada para konsumen. Softlens yang sudah kadaluarsa dicuci bersih memakai alkohol, kemudian dikemas di botol maupun wadah cantik atau bahkan ada wadah yang memang wadah softlens merek mahal yang kemudian dijual. Sebenarnya alkohol sendiri tidak disarankan untuk mata, karena alkohol bisa menyebabkan iritasi atau infeksi. 

Ada beberapa tips yang bisa dilakukan dalam memilih softlens untuk memperkecil resiko terjadinya iritasi pada mata:
  1. Pastikan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter mata, karena setiap orang itu meiliki kondisi mata yang berbeda. Bisa saja mata kita sensitif dan tidak memungkinkan menggunakan softlens.
  2. Beli softlens lebih baik di Optik dan jangan mau tergiur harga murah, karena bisa saja softlens dengan harga murah itulah yang merupakan softlens daur ulang
  3. pastikan pada kemasannya terdapat izin dari DepKes.
  4. Lihat label kadaluarsanya.
   
        


        

Sabtu, 25 Oktober 2014

Berita Interpretatif


Berita interpretatif adalah sebuah jenis berita yang mulai dikenal oleh para jurnalis ketika Curtis D. MacDougall dari Northwestern University, Amerika, menulis buku berjudul Interpretative Reporting pada tahun 1938. Berita Interpretatif berbeda dengan berita yang di tulis secara faktual saja. Berita Interpretatif merupakan sebuah berita yang ditulis dengan menaruh interpretasi di dalam berita itu sendiri sehingga terdapat analisis dari reporter. Dalam berita interpretatif, seorang reporter juga ikut mencoba unutk mejelaskan pangkal permasalahan dari sesuatu yang terjadi tersebut. Dikarenakan berita interpretatif itu bergantung pada fakta dan pertimbangan nilai, maka sebagian masyarakat menyebutnya sebagai "opini". Biasanya Berita interpretatif ditulis karena informasi yang didapat dari narasumber dirasa kurang jelas atau tidak lengkap isi dan maksudnya.


Youtube sebagai Sarana Promosi

Youtube merupakan sebuah situs yang menyajikan video sebagai fitur utamanya. Sekarang media sosial Youtube sudah berkembang pesat. Sekarang ini sudah banyak yang merasakan dampak dari publikasi yang dilakukan melalui media sosial ini seperti yang dilakukan oleh artis mancanegara, yang tenar kerena videonya di Youtube, Justin Bieber.

Sekarang ini sudah banyak masyarakat dunia yang lebih mengandal Youtube ketimbang menonton di televisi. Hal ini tentu saja dimanfaatkan oleh para pebisnis yang menjadikan Youtube sebagai alat promosi yang unggul. Di Youtube, semua orang dapat mengundah video tentang produk atau bisnis mereka secara mudah dan video tersebut dapat dilihat oleh banyak orang dari berbagai belahan dunia. Jika video yang yang diundah tersebut sukses menjadi populer atau viral, maka begitu juga dengan bisnis atau produk yang dipromosikan tersebut. 

Hal yang unggul dari Youtube lainnya adalah tidak adanya batas waktu. Pebisnis dapat mempromosikan dan mendeskripsikan produk dan jasanya secara leluasa dan lengkap.

Tetapi masih banyak masyarakat di Indonesia yang hanya mengandalkan Youtube untuk menonton saja tanpa tahu besarnya peluang yang ditawarkan oleh media sosial ini. 

Dengan adanya media sosial youtube, akan sangat memungkinkan bagi masyarakat Indonesia jika promosi yang dilakukan akan lebih efektif dan efisien. Diharapkan juga bahwa bisnis yang dipromosikan tersebut dapat menjangkau ke daerah yang lebih luas, seperti antar pulau atau bahkan antar negara.